belajar forex mudah dan profitable
Analisa Secara Tepat dengan Hasil Akurat
Analisa Secara Tepat dengan Hasil Akurat

Mei 21st
Jakarta – Peringatan Kebangkitan Nasional diperingati setiap 20 Mei, lalu apakah Kebangkitan Nasional masih diresapi di setiap bidang termasuk pasar modal Indonesia?
Semangat 104 Tahun Hari Kebangkitan Nasional dapat ditumbuhkan di pasar modal. Caranya dengan mengubah perilaku investor dari pragmatis menjadi memperhatikan fundamental. Dengan demikian dana dari pasar modal dapat menggerakkan sektor riil. Sedangkan pragmatis hanya mengedepankan untung-rugi semata.
Namun, niatan ini harus ditopang dengan jumlah investor dalam jumlah besar. Indonesia memiliki daya saing karena dari jumlah penduduk dapat sebagai faktor penting.
Saat ini jumlah sub rekening efek masih sekitar 360 ribu rekening. Jumlah ini masih kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta penduduk. Investor pasar modal Indonesia masih kurang dari 1% dari jumlah penduduk Indonesia.
Manajemen direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) pun terus melakukan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan jumlah investor di pasar modal. Sosialisasi dilakukan dengan pendirian Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) di setiap daerah di Indonesia, edukasi mengenai pasar modal dilakukan dengan pendirian pojok bursa di beberapa universitas. Selain itu, BEI juga membuat indeks saham syariah untuk menambah jumlah investor.
Pengamat pasar modal Yanuar Rizky menilai, investor di pasar modal cenderung stagnan. Apalagi investor lokal di pasar modal dinilai masih kurang. Selain itu, kualitas investor pasar modal juga dinilai masih kurang. “Investor lokal masih bersikap pragmatis. Mereka hanya mementingkan spekulasi bukan fundamental,” ujar Yanuar.
Yanuar mengatakan, investor lokal dinilai juga masih mengikuti investor asing. Investor asing kadang memanfaatkan keuntungan di saham dan nilai tukar.
Yanuar mengharapkan, manajemen direksi BEI dapat fokus untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada calon investor. Hal ini dilakukan agar investor lokal di pasar modal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selain itu, tidak hanya jumlah investor di pasar modal yang ditingkatkan tetapi juga kualitas investor pasar modal.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Ananta Wiyogo pernah menuturkan, penambahan investor lokal perlu dilakukan. Hal itu mengantisipasi bila bursa saham terjadi goncangan. Selain itu, emiten baru dan berkualitasnya untuk ditingkatkan lagi. [hid]
Mei 20th
Beijing – Krisis utang Yunani yang ditakutkan banyak orang, ternyata masih kalah dengan ancaman ekonomi China yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global.
Pandangan tersebut disampaikan editor dan penerbit laporan Boom and Doom, Marc Faber. “Saya rasa risiko terbesar sebenarnya adalah China, ekonomi Yunani sebenarnya tidak signifikan. Pasar tahu bahwa Yunani terlilit utang dan berpotensi bangkrut,” katanya, demikian mengutip cnbc.com akhir pekan ini.
Dalam mengatasi masalahnya, Yunani mendapat dukungan dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan penerimaan pajak. Namun untuk China, dengan ekonomi terbesar kedua, goncangan ekonomi akan memiliki dampak besar terhadap harga industri komoditas.
“Pada akhirnya akan memiliki dampak besar terhadap perekonomian di negara Brazil, Timur Tengah, Asia Tengah, Africa dan Australia. Sehingga ekonomi negara-negara tersebut akan ikut melambat,” tegasnya.
Faber beralasan, perekonomian China sangat tergantung pada belanja modal. Faktor ini cenderung bersifat labil dan memiliki multiplier efek yang kuat terhadap perekonomian.
Tragedi perlambatan ekonomi di China dapat menimbulkan dampak yang menyakitkan bagi pertumbuhan produk domestik semua negara. Pasalnya China telah menyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di ekonomi global.
Dana Moneter Internasional (IMF) pun awal tahun ini memprediksikan kontribusi perekonomian China terhadap ekonomi global sepanjang 2010-2013 diharapkan mencapai 31 persen atau naik 8 persen di tahun 1980.
Saat ini investasi portofolio terkonsentrasi di Asia. Tahun lalu beberapa sektor dalam ekonomi China sudah mengalami resesi. Data tiga bulan pertama tahun ini, perekonomian China melambat. Tetapi tidak hard landing. China mencatat pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun terakhir di kuartal pertama dengan PBD di 8,1 persen.
Namun para ahli menilai sektor listrik dan kereta api menunjukan perlambatan ekonomi China yang jauh lebih parah dari angka PDB.
Kekhawatiran terhadap ekonomi global telah membebani pasar saham. Indeks tidak akan dapat mengulang penguatan tertinggi yang diraih pada bulan April. Tetapi masih ada peluang untuk rebound 5%. [hid]
Mei 20th
Secara teknikal, pada perdagangan Senin (21/5/2012) IHSG sudah jenuh jual sehingga berpotensi technical rebound. Empat saham layak trading. Apa saja?
Pada perdagangan Rabu (16/5/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 65,15 poin (1,61%) ke angka 3.980,496 dengan intraday tertinggi 4.007,146 dan terlemahnya 3.926,389. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang tutun 11,28 poin (1,64%) ke posisi 675,026.
Analis Sinarmas Securities, Jansen Kustianto memperkirakan, pada perdagangan hari Senin (21/5/2012), secara teknikal indeks sudah oversold (jenuh jual). “Karena itu, terbuka kemungkinan akan adanya technical rebound, pada kisaran support 3.930 dan resistance 4.010,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.
Namun demikian, Jansen mengingatkan, salah satu sentimen negatif masih datang dari perkembangan politik di Yunani seputar pembentukan pemerintahan yang belum juga tuntas. “Situasi itu, kembali memunculkan wacana keluarnya Yunani dari uni Eropa,” ujarnya.
Selain itu, data ekonomi AS seperti data pembangunan perumahan dan tingkat produksi industri dapat memberikan sentimen terhadap indeks. Di atas semua itu, Jansen merekomendasikan positif empat saham dari sektor infrastruktur, farmasi, consumer goods, dan otomotif.
Saham-saham pilihannya adalah PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Kalbe Farma (KLBF), PT Nippon Indosari Corporindo (ROTI), dan PT Astra Internasional (ASII). “Itulah saham-saham yang dapat diperhatikan untuk daily trading,” imbuh Jansen.
Mei 20th
Jakarta – Laba bersih PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) naik menjadi Rp53,9 miliar per 31 Maret 2012 dari Rp25,07 miliar pada periode yang sama 2011.
Kenaikan laba 52% lebih tersebut, didukung penjualan selama tiga bulan pertama tahun ini mencapai Rp577,2 miliar. Angka tersebut juga mengalami kenaikan 58,08% dari periode yang sama 2011 sebesar Rp365,2 miliar. Demikian mengutip keterangan resmi yang diterbitkan BEI, Satbu (19/5/2012).
Namun dengan beban penjualan mencapai Rp454,1 miliar maka laba kotor menjadi Rp123,1 miliar. Pada periode yang sama 2011, laba kotor perseroan mencapai Rp85,1 miliar.
Posisi laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp67,4 miliar dari Rp33,9 miliar. Untuk pajak penghasilan periode tersebut sebesar Rp13,4 miliar sehingga laba bersih mencapai Rp53,9 miliar.
Pada periode tersebut, produsen Ayam Kremez ini, jumlah asetnya cenderung turun tipis menjadi Rp1,52 triliun dari Rp3,59 triliun per 31 Desember 2011.
Mei 20th
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) harus membuktikan kualitas kredit yang dikucurkan cukup mendukung kinerja tahun ini.
Demikian mengutip hasil riset E Trading Securities, akhir pekan lalu. Selain itu, penerapan manajemen risiko yang baik mutlak diperlukan oleh BBNI dalam ekspansi kreditnya sehingga kualitas kredit yang tercermin pada rasio nonperforming loan (NPL) dapat terkendali.
Alokasi kredit korporasi yang disiapkan BBNI untuk tahun 2012 sebesar Rp10-15 triliun menurut kami merupakan hal yang positif. Dengan alokasi kredit tersebut, diharapkan dapat mendukung pertumbuhan kredit korporasi dan pada gilirannya memberikan kontribusi positif bagi kinerja BBNI ke depannya.
Kredit tersebut mengucur ke BUMN maupun perusahaan swasta. Sedangkan sektor yang diharapkan menggunakan fasilitas kredit BNI seperti sektor infrastruktur, pekerjaan umumm perdagangan serta aneka industri.
Untuk kredit korporasi BBNI pada 2011 mencapai Rp57,6 triliun atau mencapai 35,2% dari total kredit BBNI pada 2011. Dalam catatan 2011, net-NPL dan gross NPL BBNI tercatat masing-masing 0,5 dan 3,6 dari sebelumnya net NPL 1,1 dan gross-NPL pada tahun 2010 tercatat 4,3.